Indonesia Rohis Community Achievement (IRCA) adalah suatu wadah untuk memperkuat keislaman. saling berbagi dan menasehati dalam kebenaran. Sarana dalam mendakwahkan agama Allah. Seindah-indah kamu belajar Al-Quran adalah mengajarkannya kembali pada orang lain dan sebaik-baik kamu berada adalah bermanfaat bagi orang lain. INSYA ALLLAH. FABIAYYI ALA IROBBIKUMA TUKAJJIBAN???
Senin, 06 Mei 2013
Senin, 11 Februari 2013
Valentine's Day???
Valentine..?
Sebuah Perayaan Perusak Moral
Generasi Bangsa
”
Barang siapa meniru suatu kaum, dia termasuk kelompok mereka.” (HR. Ahmad dan
Abu Dawud).
Valentine???
Apa Tuh Valentine???
Kasih tau gak yaaa…,
Ayo donk sobat IRCA dijawab..
Heemm…
Bukan merek shampo,
yang sialnya kalo di iklan-iklan bikin kaum hawa merasa iri dan kemudian gigit
jari. cuma pake shampo? pria-pria bertekuk lutut? Woww…
Mirisnya, karena saya
wanita berkerudung memakai shampo palentin bukanlah option yang pas buat
membuat para pria bertekuk lutut. Kayaknya sih ya, iklan pelembut kain semacam
Molto atau Suftener Soklin bisa sedikit membantu kali ya, buat kerudung biar ga
lecek selayaknya muka seorang pacar yang diselingkuhin pacarnya. Nah Loh. HEHEHE
Gak terasa ya sob kita sudah masuk di bulan Februari, Banyak
yang bilang,kata nya kalo bulan Februari adalah bulan yang penuh cinta,bulan yang
indah dan romantis,serta bulan yang tepat bagi mereka yang ingin mengungkapkan
semua perasaan kasih sayang terhadap pasangan nya tersebut.
Ya..Semua ungkapan yang di implementasikan itu sudah jelas
tertuju pada tanggal 14 februari dan erat kaitan nya dengan perayaan Valentin
Day atau yang katanya dengan hari Kasih Sayang.
Yang buat saya nggak habis pikir nich sob, Kenapa ya
Valentin dari beberapa abad Jadul kok ampe sekarang masih aja di ikutin
pemuda/pemudi muslim.
Bahkan bukan cuma sekedar dari kalangan remaja saja,mulai
dari anak SD,ABG,sampe dengan beberapa orang tua nya pun malah ikut-ikutan
ngerayain Valentin yang Saya rasa nggak jelas manfaat nya,bikin hidup lebih
pemborosan,bahkan lebih identik dengan Jahiliyah atau Pembodohan Peradaban
semata.Afwan..!!!
Sobat Al-Khatsir di era globalisasi dan seiring maraknya
ragam gaya hidup Barat yang masuk ke dunia Islam, menyebabkan banyak remaja
muslim di berbagai belahan dunia tak mampu berkutik dibuatnya. Gaya hidup Barat
yang tak lepas dari kesan glamor dan konsumtif, wujud cerminan modernitas
tersebut, mampu menggoncang peradaban Islam. Terutama para remaja muda-mudi.
Salah satu budaya Barat yang merasuki remaja muslim, hingga
dijadikan trendsetter, tersebut ialah sebuah perayaan yang jatuh pada
tanggal 14 Februari bernama ”Valentine’s day” atau “Hari Kasih Sayang”.
Valentine’s Day dimaknai dengan kasih sayang atau hari di
mana pasangan kekasih, muda-mudi Barat, yang sedang jatuh cinta mengungkapkan
rasa kasih sayang mereka kepada pasangan masing-masing. Umumnya diekspresikan
dengan saling bertukar kado, cokelat, dan bunga mawar. Bahkan, yang lebih
populer, dengan bertukar kartu valentine berbentuk hati (love), yang
dihiasi sebuah gambar “Copidu” (si bayi kecil bersayap dengan busur lengkap dan
anak panah di tangan).
Jika kita mau menilik lebih jauh tentang asal muasal
perayaan Valentine’s Day, akan kita temukan berbagai versi di dalamnya. Hal
tersebut membuktikan bahwa perayaan Valentine’s Day memiliki latar belakang
yang tidak jelas sama sekali. Bahkan, bisa dikatakan hanya berasal dari sebuah
mitos belaka dengan merujuk seorang martir bernama Valentinus atau Santo
Valentinus. Santo Valentinus meninggal pada 14 Februari yang kemudian oleh Paus
Gelasius I dijadikan hari perayaan bagi kaum Nasrani.
Namun, tabiat muda-mudi yang selalu latah akan kebudayaan
Barat, yang jauh dari syariat Islam, Valentine’s Day selalu menjadi momen
tersendiri bagi mereka setiap tahunnya. Dari sekedar mengucapkan “selamat”,
hingga ikut langsung melakoni hal serupa seperti yang dilakukan “orang Barat”.
Hal-hal tersebut terjadi karena sebagian remaja atau
muda-mudi muslim telah menganggap yang “satu” ini sebagai trend masa
kini. Sehingga, bagi yang tidak ikut merayakan, bisa dianggap kuno, ketinggalan
zaman, atau kampungan (wong ndeso).
Sebagian orang ada yang hanya ikut-ikutan, tanpa mengetahui story
behind perayaan tersebut. Namun, tidak sedikit pula sebagian mereka
sebenarnya mengetahui kalau Valentine’s Day merupakan budaya non muslim, tapi
karena alasan gengsi (jika tidak ikut merayakan) mereka pun akhirnya tidak mau
tahu.
Islam
sangat melarang umatnya dari sikap tasyabuh (menyerupai budaya atau gaya
hidup non muslim), baik dari segi ucapan, tingkah laku, maupun cara bermode.
Firman Allah dalam Surat Al-Isra’, “Dan janganlah kamu mengikuti
sesuatu yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan, dan hati
nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Isra’:36)
Kemudian dalam Surat Al-An’am, ”Dan jika kamu mengikuti
kebanyakan orang di Bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan
Allah, yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat
kebohongan.” (Al-An’am:116)
Serta
sabda Nabi Saw, ” Barang siapa meniru suatu kaum, dia termasuk kelompok
mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Sangat jelas di muka, bahwa hari Valentine merupakan
perayaan atau ritual non muslim. Jika kita ikut merayakannya, berarti kita
telah meniru-niru mereka.
Dalam perayaan Valentine’s Day, jika kita saksikan sekarang
ini merupakan cara pengekspresian cinta kasih yang dibaluti dengan fenomena
pacaran, zina, mabuk-mabukan, serta foya-foya, yang intinya terlalu
mengedepankan nafsu syahwat semata. Cara mengekspresikan cinta kasih inilah
yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam, jika kita memandang perayaan ini
melalui perspektif Islam.
Sungguh merupakan sebuah kekurangcerdasan, jika kita sebagai
generasi Islam ikut melestarikan budaya yang sama sekali tidak memiliki ikatan
histori, emosional, dan religius sedikitpun dengan ajaran Islam. Keikutsertaan
kita dalam perayaan yang identik dengan hura-hura dan maksiat ini merupakan
refleksi sebuah kekalahan dalam “peperangan” mempertahankan identitas jati diri
kita sebagai pemeluk Islam.
Sebagai generasi muda muslim, selain kita dituntut melek
teknologi dan ilmu pengetahuan, kita juga dituntut mampu memfilterisasi diri
serta lingkungan atau budaya kita dari integritas budaya asing. Jangan mudah
terbawa arus deras modernisasi yang cenderung menyesatkan. Jangan sampai kita
sebagai umat Islam hanya bagai buih di lautan, banyak namun mudah
terombang-ambing, banyak namun tak memilki arti.
Hal semestinya yang harus kita lakukan wahai saudaraku,
adalah kembali merapatkan jiwa dan kesadaran kita masing-masing ke dasar ajaran
agama kita. Kembali ke ajaran Islam yang sesungguhnya. Mendekatkan diri kepada
Allah, serta membekali diri ini dengan tembok pengetahuan agama yang mumpuni.
Tanpa mengabaikan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai generasi Islam, kita harus berusaha sekuat yang kita
mampu untuk mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan kita di
masyarakat, dalam muamalah sehari-hari. Agar ruh ajaran Islam tak
terkontaminasi oleh budaya-budaya asing yang terbukti hanya menimbulkan
keresahan dalam masyarakat muslim.
Sob, Sebetulnya mereka ini sudah paham bener nggak ya makna
dari sebuah Valentin ?
Lagi pula,coba dech kalian pikir & renungkan... Mana ada sich demi mengungkapkan sebuah perasaan kasih sayang kita harus terkait ruang & waktu yaitu setiap tanggal 14 februari dalam 1 tahun ? Bukankah hal yang sedemikian itu begitu amat sangat Naif sekali ??
Lagi pula,coba dech kalian pikir & renungkan... Mana ada sich demi mengungkapkan sebuah perasaan kasih sayang kita harus terkait ruang & waktu yaitu setiap tanggal 14 februari dalam 1 tahun ? Bukankah hal yang sedemikian itu begitu amat sangat Naif sekali ??
Sobat Muda, Bukankah dalam setiap agama selalu menganjurkan
& mengajarkan agar kita senantiasa berkasih sayang kepada sesama sepanjang
hayat kita. Jadi,nggak perlu di batasi oleh waktu donk..!!
Dan saya percaya seyakin yakin nya,pasti sobat semua setuju
bila kasih sayang itu nggak perlu di batasi oleh ruang & waktu.
Sebagai muslim,apakah kita layak menjadi 'Generasi Penerus'
dari hal-hal yang nggak bermanfaat?
Lagi pula jika ditanya kenapa mengikuti trend Valentine,toh
jawaban yang keluar cuma jawaban "ikut-ikutan" doank.
Banyak sekali media yang sudah
mengabarkan,menelaah,mengkaji,mengkritisi & memberikan respon negatif
terhadap budaya Valentine ini sob.
Jadi,apakah kalian masih ingin ikut-ikutan trend budaya
semacam ini ? Jika kalian masih ingin ikut-ikutan melanjutkan nya,maka jelaslah
bahwa 'Generasi Penerus' kita itu akan jatuh kedalam kenistaan dan KEBODOHAN
PERMANEN
Valentine itu datang dari budaya asing dalam budaya barat.
Dimana budaya barat itu sendiri mereka tidak bisa membedakan antara Cinta dan Zina,yang mana budaya itu sangat bertentangan dengan budaya kita
sebagai orang 'ketimuran' , dan ada baik nya jika kita harus memperketat
filterisasi dari budaya-budaya tersebut.
Lihatlah realitanya sobat.. Valentine lebih banyak
mendatangkan 'kemudharatan' nya dibandingkan mendatangkan manfaat nya.
Saat ini Valentine seolah membius & menjadi idola bagi
para pecinta. Tak bisa dipungkiri jika hari kasih sayang yang merebak luas ini
justru lebih banyak di bumbui dengan versi sentimental tentang makna dari
valentine itu sendiri.
Bahkan dengan mengikuti perayaan ini,seringkali terjadi
hubungan-hubungan haram dari lawan jenis di luar garis batas ke-halal-an nya.
Mereka melakukan hal sedemikian tidak lain dengan berdalih
kasih sayang yang mendalam kepada para pasangan,hingga tak sedikit kasus
bermunculan dari akhir perayaan ini yang berujung dengan banyak para gadis yang
hamil di luar nikah.
Sebelum semua terlambat,ada baik nya jika kita antisipasi
diri kita & orang-orang yang kita sayangi untuk tidak terjerumus kedalam
peringatan murahan semacam ini.
Bukankan baginda Rasulullah menganjurkan kita untuk saling
nasehat menasehati dalam kebaikan?
Dan sebagai seorang muslim,kita berharap semoga kita
terhindar dari hal-hal nista dengan selalu berlindung kepada kasih sayang Allah
yang takkan pernah padam sepanjang massa serta tiada terkait sepanjang ruang
dan waktu. Insya Allah. Semoga Bermanfaat.
(copas: BULETIN DAKWAH REMAJA AL-KATSIR SMK WIDYA KARYA BALAI JAYA KOTA RIAU)
Sabtu, 12 Januari 2013
Wanita Shaleha Bidadari Syurga
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum…
Beginilah
seharusnya menjadi wanita..
Yang dengan ikhlas dan rela menanggalkan dunia serta segala kenikmatannya, kecuali hanya seperlunya saja untuk bisa membangkitkan badan demi tetap mengabdi kepada اَللَّÙ‡ُ.
Beginilah seharusnya menjadi wanita! Yang dengan sadar menjauhkan diri dari kemewahan dan memilih berkarib dengan kezuhudan. Dia melakukan perdagangan yang menguntungkan untuk sebuah surga, dengan menjual kehidupan dan waktu santainya untuk menuju kehidupan berjuang dan jihad. Dia lebih memilih ridho kepada اَللَّÙ‡ُ dari pada suara sanjungan manusia. Dia lebih memilih untuk taat para aturan اَللَّÙ‡ُ yang banyak ditinggalkan manusia. Hatinya selalu condong pada ridho اَللَّÙ‡ُ dan pikirannya terfokus untuk mengingat firman الله سُبْØَانَÙ‡ُ وتَعَالَÙ‰ :
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu. Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) اَللَّÙ‡ُ dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya اَللَّÙ‡ُ menyediakan bagi siapa yang yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar" (QS. Al Ahzab : 28-29)
Sungguh… dia memang lembut namun tangguh dalam menemani hidup sang mujahid. Dialah sang penguat hati, ketika berbagai hal manusiawi datang melemahkan iman sang suami. Dia yang membantu suami agar senantiasa merasa damai, seperti Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam, yang merasa takut sembari berkata: "Selimuti aku, selimuti aku!", namun dengan tenangnya Siti Khadijah yang berada disisi beliau berkata: "Demi اَللَّÙ‡ُ! Selamanya اَللَّÙ‡ُtidak akan menghinakan engkau, karena engkau selalu menyambung tali silaturrohim, menanggung beban orang lain, dan membantu orang yang semestinya mendapatkan haknya".
Beginilah seharusnya menjadi wanita! Adalah dia yang begitu sabar atas rongrongan diri dan nafsu orang- orang tak berilmu disekitarnya. Dan dialah yang tetap memilih untuk berkuat hati terhadap musibah dan kesulitan yang menimpanya. Dialah yang tetap tabah walaupun jarak memisahkan dirinya dengan orang kesayangannya, karena iman seakan mengabarkan kepadanya bahwa surga itu memang mahal dan akan menjadi miliknya justru saat kesulitan itu datang.
Beginilah seharusnya seorang wanita! Mereka yang rela mencintai saudara- saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. Dia yang menyingsingkan lengan bajunya di dalam membantu para manusia yang teraniaya, walaupun sampai menghabiskan seluruh waktu dan harinya.
Beginilah seharusnya seorang wanita! yang mencontoh para shohabiyat rodhiyallohu 'anha ketika membantu para mujahidin di medan perang. Mereka bahkan rela mengorbankan apapun yang mereka punya demi kejayaan Islam di bumi ini. Dia juga melawan kemalasan diri demi menegakkan sholat di sepertiga terakhir, dan memanjatkan doa untuk saudara- saudara mereka sesama muslim.
Ya اَللَّÙ‡ُ ... kuatkanlah batin para peneduh jiwa mujahidin ini.
Ya اَللَّÙ‡ُ ... lapangkanlah hati dan pikiran para penebar kedamaian para pejuang agamamu ini.
Ya اَللَّÙ‡ُ ... Berilah pertolongan kepada orang-orang yang menolong mereka, dan hinakanlah orang-orang yang menghinakan mereka.
Ya اَللَّÙ‡ُ ... selamatkanlah mereka dari para musuh- musuh yang akan mengoyak kehormatan para wanita mulia ini.
Ya اَللَّÙ‡ُ ... hadiahkanlah surga atas semua pengorbanan mereka yang ikhlas terhampar hanya karenaMu.
Amiiin…
Yang dengan ikhlas dan rela menanggalkan dunia serta segala kenikmatannya, kecuali hanya seperlunya saja untuk bisa membangkitkan badan demi tetap mengabdi kepada اَللَّÙ‡ُ.
Beginilah seharusnya menjadi wanita! Yang dengan sadar menjauhkan diri dari kemewahan dan memilih berkarib dengan kezuhudan. Dia melakukan perdagangan yang menguntungkan untuk sebuah surga, dengan menjual kehidupan dan waktu santainya untuk menuju kehidupan berjuang dan jihad. Dia lebih memilih ridho kepada اَللَّÙ‡ُ dari pada suara sanjungan manusia. Dia lebih memilih untuk taat para aturan اَللَّÙ‡ُ yang banyak ditinggalkan manusia. Hatinya selalu condong pada ridho اَللَّÙ‡ُ dan pikirannya terfokus untuk mengingat firman الله سُبْØَانَÙ‡ُ وتَعَالَÙ‰ :
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu. Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) اَللَّÙ‡ُ dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya اَللَّÙ‡ُ menyediakan bagi siapa yang yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar" (QS. Al Ahzab : 28-29)
Sungguh… dia memang lembut namun tangguh dalam menemani hidup sang mujahid. Dialah sang penguat hati, ketika berbagai hal manusiawi datang melemahkan iman sang suami. Dia yang membantu suami agar senantiasa merasa damai, seperti Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam, yang merasa takut sembari berkata: "Selimuti aku, selimuti aku!", namun dengan tenangnya Siti Khadijah yang berada disisi beliau berkata: "Demi اَللَّÙ‡ُ! Selamanya اَللَّÙ‡ُtidak akan menghinakan engkau, karena engkau selalu menyambung tali silaturrohim, menanggung beban orang lain, dan membantu orang yang semestinya mendapatkan haknya".
Beginilah seharusnya menjadi wanita! Adalah dia yang begitu sabar atas rongrongan diri dan nafsu orang- orang tak berilmu disekitarnya. Dan dialah yang tetap memilih untuk berkuat hati terhadap musibah dan kesulitan yang menimpanya. Dialah yang tetap tabah walaupun jarak memisahkan dirinya dengan orang kesayangannya, karena iman seakan mengabarkan kepadanya bahwa surga itu memang mahal dan akan menjadi miliknya justru saat kesulitan itu datang.
Beginilah seharusnya seorang wanita! Mereka yang rela mencintai saudara- saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. Dia yang menyingsingkan lengan bajunya di dalam membantu para manusia yang teraniaya, walaupun sampai menghabiskan seluruh waktu dan harinya.
Beginilah seharusnya seorang wanita! yang mencontoh para shohabiyat rodhiyallohu 'anha ketika membantu para mujahidin di medan perang. Mereka bahkan rela mengorbankan apapun yang mereka punya demi kejayaan Islam di bumi ini. Dia juga melawan kemalasan diri demi menegakkan sholat di sepertiga terakhir, dan memanjatkan doa untuk saudara- saudara mereka sesama muslim.
Ya اَللَّÙ‡ُ ... kuatkanlah batin para peneduh jiwa mujahidin ini.
Ya اَللَّÙ‡ُ ... lapangkanlah hati dan pikiran para penebar kedamaian para pejuang agamamu ini.
Ya اَللَّÙ‡ُ ... Berilah pertolongan kepada orang-orang yang menolong mereka, dan hinakanlah orang-orang yang menghinakan mereka.
Ya اَللَّÙ‡ُ ... selamatkanlah mereka dari para musuh- musuh yang akan mengoyak kehormatan para wanita mulia ini.
Ya اَللَّÙ‡ُ ... hadiahkanlah surga atas semua pengorbanan mereka yang ikhlas terhampar hanya karenaMu.
Amiiin…
Senin, 07 Januari 2013
Selasa, 25 Desember 2012
Wasiat Indah
Semoga Yang Ikhlas Membaca Ini Diberkahi Allah Swt
Bismillahirrahmanirrahim,,,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh...
Sahabat IRCA yang dirahmati Allah Swt., coba kita renungkan cepat atau lambat ajal pasti akan menjemput kita, amala apa yang sudah kita perbuat di dunia ini. sudah cukupkah bekal yang kita siapkan menuju tempat yang abadi???
Kematian akan menimpa setiap orang. Oleh karena
itu setiap orang wajib untuk memberikan perhatian pada dirinya. Musibah
terbesar yang menimpa seseorang adalah kelalaian tentang hakikat ini, kelalaian
tentang hakikat dunia yang sebenarnya. Jika Alloh memberi nikmat padamu
sehingga engkau bisa memahami hakikat dunia ini, bahwa dunia
adalah negeri yang asing, negeri yang penuh ujian, negeri tempat berusaha,
negeri yang sementara dan tidak kekal, niscaya hatimu akan menjadi sehat.
Adapun jika engkau lalai tentang hakikat ini maka kematian dapat menimpa
hatimu. Semoga Alloh menyadarkan kita semua dari segala bentuk kelalaian.
Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir”. Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati” (HR. Bukhori)
Palingkan hatimu pada apa saja yang kau cintai
Tidaklah kecintaan itu kecuali pada cinta pertamamu
Yaitu Alloh jalla wa ‘ala
Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang ditempati seseorang
Dan selamanya kerinduannya hanya pada tempat tinggalnya yang semula Yaitu surga
Demikianlah, hal ini menjadikan hati senantiasa bertaubat dan tawadhu kepada Alloh jalla wa ‘ala. Yaitu orang yang hati mereka senantiasa bergantung pada Alloh, baik dalam kecintaan, harapan, rasa cemas, dan ketaatan. Hati mereka pun selalu terkait dengan negeri yang penuh dengan kemuliaan yaitu surga. Mereka mengetahui surga tersebut seakan-akan berada di depan mata mereka. Mereka berada di dunia seperti orang asing atau musafir. Orang yang berada pada kondisi seakan-akan mereka adalah orang asing atau musafir tidak akan merasa senang dengan kondisinya sekarang. Karena orang asing tidak akan merasa senang kecuali setelah berada di tengah-tengah keluarganya. Sedangkan musafir akan senantiasa mempercepat perjalanan agar urusannya segera selesai.
Demikianlah hakikat dunia. Nabi Adam telah menjalani masa hidupnya. Kemudian disusul oleh Nabi Nuh yang hidup selama 1000 tahun dan berdakwah pada kaumnya selama 950 tahun,
“Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun” (QS Al Ankabut: 14)
Kemudian zaman beliau selesai dan telah berlalu. Kemudian ada lagi sebuah kaum yang hidup selama beberapa ratus tahun kemudian zaman mereka berlalu. Kemudian setelah mereka, ada lagi kaum yang hidup selama 100 tahun, 80 tahun, 40 tahun 50 tahun dan seterusnya.
Hakikat mereka adalah seperti orang asing atau musafir. Mereka datang ke dunia kemudian mereka pergi meninggalkannya. Kematian akan menimpa setiap orang. Oleh karena itu setiap orang wajib untuk memberikan perhatian pada dirinya. Musibah terbesar yang menimpa seseorang adalah kelalaian tentang hakikat ini, kelalaian tentang hakikat dunia yang sebenarnya. Jika Alloh memberi nikmat padamu sehingga engkau bisa memahami hakikat dunia ini, bahwa dunia adalah negeri yang asing, negeri yang penuh ujian, negeri tempat berusaha, negeri yang sementara dan tidak kekal, niscaya hatimu akan menjadi sehat. Adapun jika engkau lalai tentang hakikat ini maka kematian dapat menimpa hatimu. Semoga Alloh menyadarkan kita semua dari segala bentuk kelalaian.
Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir”. Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati” (HR. Bukhori)
Palingkan hatimu pada apa saja yang kau cintai
Tidaklah kecintaan itu kecuali pada cinta pertamamu
Yaitu Alloh jalla wa ‘ala
Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang ditempati seseorang
Dan selamanya kerinduannya hanya pada tempat tinggalnya yang semula Yaitu surga
Demikianlah, hal ini menjadikan hati senantiasa bertaubat dan tawadhu kepada Alloh jalla wa ‘ala. Yaitu orang yang hati mereka senantiasa bergantung pada Alloh, baik dalam kecintaan, harapan, rasa cemas, dan ketaatan. Hati mereka pun selalu terkait dengan negeri yang penuh dengan kemuliaan yaitu surga. Mereka mengetahui surga tersebut seakan-akan berada di depan mata mereka. Mereka berada di dunia seperti orang asing atau musafir. Orang yang berada pada kondisi seakan-akan mereka adalah orang asing atau musafir tidak akan merasa senang dengan kondisinya sekarang. Karena orang asing tidak akan merasa senang kecuali setelah berada di tengah-tengah keluarganya. Sedangkan musafir akan senantiasa mempercepat perjalanan agar urusannya segera selesai.
Demikianlah hakikat dunia. Nabi Adam telah menjalani masa hidupnya. Kemudian disusul oleh Nabi Nuh yang hidup selama 1000 tahun dan berdakwah pada kaumnya selama 950 tahun,
“Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun” (QS Al Ankabut: 14)
Kemudian zaman beliau selesai dan telah berlalu. Kemudian ada lagi sebuah kaum yang hidup selama beberapa ratus tahun kemudian zaman mereka berlalu. Kemudian setelah mereka, ada lagi kaum yang hidup selama 100 tahun, 80 tahun, 40 tahun 50 tahun dan seterusnya.
Hakikat mereka adalah seperti orang asing atau musafir. Mereka datang ke dunia kemudian mereka pergi meninggalkannya. Kematian akan menimpa setiap orang. Oleh karena itu setiap orang wajib untuk memberikan perhatian pada dirinya. Musibah terbesar yang menimpa seseorang adalah kelalaian tentang hakikat ini, kelalaian tentang hakikat dunia yang sebenarnya. Jika Alloh memberi nikmat padamu sehingga engkau bisa memahami hakikat dunia ini, bahwa dunia adalah negeri yang asing, negeri yang penuh ujian, negeri tempat berusaha, negeri yang sementara dan tidak kekal, niscaya hatimu akan menjadi sehat. Adapun jika engkau lalai tentang hakikat ini maka kematian dapat menimpa hatimu. Semoga Alloh menyadarkan kita semua dari segala bentuk kelalaian.
SALAM IRCA “Kreatifitas Muslim Dan Muslimah
Sholeh/Sholeha Berprestasi”
Langganan:
Postingan (Atom)




